Pages

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2015

Tiga Macam Rumah dan Perumpamaan Hati



Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Dalam kehidupan ini jika kita perhatikan ternyata ada tiga macam rumah. Yang pertama adalah rumah bangsawan, orang kaya dan raja . Di dalamnya penuh dengan simpanan, tabungan, perhiasan, harta melimpah, emas, perak, intan, berlian dan lain sebagainya. Yang kedua adalah rumah orang biasa yang sederhana. Di dalamnya ada simpanan, tabungan, dan perhiasan yang tidak sebanyak dimilki bangsawan, orang kaya dan raja. Dan yang ketiga adalah rumah kosong. Di dalamnya tidak ada simpanan, tidak ada tabungan, perhiasan, harta melimpah, emas, perak, intan, berlian dan lain sebagainya. Tidak ada isinya sama sekali.
Nah, pertanyaan “jika ada seorang pencuri, kira-kira ia akan memasuki rumah yang mana?” silakan coba teman-teman tebak.

Selasa, 03 Maret 2015

5 Jenis Manusia



Ibrahim Elfiky seorang pendiri dan ketua dewan komisaris beberapa perusahaan bersklala internasional menyebutkan ada lima jenis manusia.

Minggu, 07 Desember 2014

Disiplinlah




"Betapa pun berbakatnya seorang
pemimpin, ia tidak akan mencapai
potensi maksimalnya jika tidak
disiplin" - John C. Maxwell

Senin, 01 Desember 2014

KONSEKUENSI BAGI ORANG YANG BERNIAT MENUNTUT ILMU.


Pada masa sekarang ini istilah penuntut ilmu atau anak sekolahan sudah tidak asing lagi di mata dan telinga masyarakat. Bahkan hampir disemua lapisan masyarakat pasti ada yang menuntut ilmu (sekolah). Yang menjadi ironi adalah ketika banyak sekali yang mengatakan bahwa kualiats para penuntut ilmu pada saat sekarang ini jauh berbeda dengan kualitas para penuntut ilmu pada masa yang lalu. Benarkah demikian?

Rabu, 12 November 2014

Ketika Mahasiswa Menggunakan SKS



Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
SKS merupakan kepanjangan dari Sistem Kerja Semalam atau Sistem Kebut Semalam. Sistem ini merupakan sistem yang dijadikan oleh sebagian Mahasiswa dalam menghadapi permasalahannya, seperti;

Senin, 10 November 2014

Siapa dan Apa Yang Pertama Kita ingat


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Hai kawan, gimana kabarnya nih? Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dalam keadaan sehat jasamni dan rohani. Bertemu lagi di blog saya yang masih sangat sederhana ini. :) Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk bersama-sama sedikit melihat ke dalam diri kita “siapa dan apa yang pertama kita ingat?

Jumat, 07 November 2014

Saya Tidak Tahu



Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Sahabat, menjadi seorang cerdas bukan berarti mengetahui segala jawaban. Terkadang jawaban yang paling cerdas yang anda katakan adalah “saya tidak tahu”. Mengapa demikian? Diperlukan rasa percaya diri dan kecerdasan ekstra untuk mengetahui ketidak tahuan kita. Dan ketika kita melakukannya kita sedang dalam proses mempelajari jawaban yang sesungguhnya. Seringkali karena alasan kebanggaan dan mencegah rasa malu, kita mengatakan tahu yang sebenarnya kita tidak tahu. Padahal dengan begitu kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar lebih lanjut.
Sahabat, percayalah tidak ada salahnya apabila kita tidak mengetahui suatu hal. Seorang bijak pernah berkata

Kamis, 06 November 2014

Kenapa hidup bisa Bosan?



Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Seorang kakek yang bijak ditanya oleh seorang pemuda, “sebenarnya apa sih perasaan bosan itu kek?” lalu si kakek menjawab “bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dari keadaan yang monoton dari waktu kewaktu”. Lalu pemuda bertanya lagi “kenapa kita merasa bosan kek?”. Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita milki” jawab sang kakek.
Kemudian pemuda tadi bertanya lagi

Senin, 03 November 2014

Tiga orang pemuda dan perumpamaan amal



Di sebuah desa terpencil, di tepi hutan di lembah yang hijau hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung di desa tersebut dan ramai dikunjungi baik dari penduduk setempat maupun dari desa lainnya. Diantara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan dagangannya yaitu kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Umar, Abu, Abbas.
KEGIATAN sehari-hari mereka adalah mencari kayu bakar di hutan lalu dijualnya ke pasar. Pekerjaan ini mereka lakukan tanpa pernah melirik pada pekerjaan lain, barangkali kodrat Ilahi sudah menentukan demikian. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lainnya, walaupun begitu ketiganya mempunyai perangai berbeda.
       Umar berperangai sabar, tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras. Setelah Sholat  Shubuh  di saat matahari belum terbit, ia sudah pergi menjemput kedua temannya yang masih terlelap untuk mengajak pergi mencari kayu bakar. Abu, kadang mengerjakan sholat Shubuh kadang tidak. Abbas, adalah tipe pemalas yang susah bangun pagi. Kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena ia selalu beralasan,”Aku masih ngantuk nih. Duluan saja, nanti aku akan menyusul.”
       Umar memperlihatkan rasa kasih sayang kepada semua orang. Ia sangat menyayangi saudara dan kedua orangtuanya. Ia juga menyayangi orang-orang di sekililingnya. Ia akan segera membantu mereka yang perlu bantuannya.  Temannya, Abu, sikapnya biasa-biasa saja. Ia tidak terlalu antusias dengan  lingkungannya. Jika ia di ajak Umar untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi membantu. Tapi  Abbas, adalah pemuda yang cuek. Ia merasa tidak harus banyak membantu orang lain, karena menurutnya ia adalah orang miskin yang perlu bantuan orang lain juga. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.
       Begitulah, ketiga sahabat itu memang beda, walaupun begitu tetap saja mereka selalu bersama. Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan di sebelah barat dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang biasa mereka dapatkan.
       Seperti biasa setelah Sholat  Shubuh, hari masih gelap, Umar menjemput kedua temannya. Kemudian ketiganya berangkat menuju hutan sebelah barat. Perjalanan kali ini cukup jauh, harus melewati sungai, lembah, dan bukit-bukit terjal di pegunungan. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu bakarnya. Kemudian mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya.
       Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai dengan petir yang bersahutan. Ketiganya sangat bingung dan ketakutan, mereka lalu berlari mencari tempat berteduh.
       Umar melihat sebuah gua, kemudian ia berteriak kepada kedua temannya untuk berteduh di sana. Mereka pun masuk ke dalam gua yang gelap gulita itu. Di dalam gua, mereka tidak melihat apa-apa di sekelilingnya. Seakan-akan mata mereka buta. Ketiganya pun berjalan perlahan. Tiba-tiba mereka menginjak benda-benda halus licin seperti kerikil. Bersamaan dengan itu mereka di kejutkan dengan sebuah suara yang menggema ke seluruh ruangan gua. “Siapa yang mengambil akan menyesal. Siapa yang tidak akan mengambil akan menyesal.”
       Ketiganya mendengar suara itu berulang-ulang hingga lama-lama menghilang. Kemudian Umar, Abu dan Abbas memutar otaknya untuk mencari keuntungan dari suara gaib itu. “Apakah yang akan di ambil?” Ada apa di dalam gua ini?” begitu pikir mereka. Tetapi mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.
       Umar berkata dalam hatinya,”Kalau saya ambil, saya akan menyesal, kalau tidak saya ambil, saya juga akan menyesal. Ah, lebih baik ambil saja yang banyak.” Ia pun langsung memenuhi semua kantong baju dan celana dengan kerikil-kerikil itu.
       Abu pun berpikiran sama, tapi ia hanya mengambil kerikil-kerikil itu segenggam. Sebaliknya, Abbas malah tidak mau mengambil barang sedikitpun. “Kalau sama-sama menyesal lebih baik tidak aku ambil” pikirnya.
       Ketiganya pun membisu. Mereka masih ketakutan. Kemudian Umar mengajak kedua temannya untuk keluar dari gua. Mereka pun berlari keluar. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari gua. Dengan napas terengah-engah akhirnya mereka berhenti. Tidak terasa ternyata hujan juga sudah reda. Ketiganya lalu ingin membuktikan apa sebetulnya yang telah mereka ambil dari gua. Betapa terperanjatnya mereka bertiga ketika mengetahui bahwa kerikil-kerikil itu ternyata adalah berlian!!.
       Umar sudah mengantongi banyak berlian merasa menyesal,”Waduh!  Kalau saja aku tahu ini berlian, aku akan mengambilnya lebih banyak lagi. Kalau perlu akan kubuka bajuku untuk mengantongi berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya.”  Abu juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Sedangkan Abbas, tubuhnya langsung lemas ketika mengetahui kedua temannya mendapat berlian. Ia sendiri tidak mendapat apa-apa. “Ohh, kenapa tadi aku tidak mengambil barang sedikit saja” ia pun jatuh pingsan dengan sejuta penyesalan.
       Setelah Abbas siuman, ketiganya bersepakat untuk mendatangi gua itu kembali. Dengan semangat, Abbas langsung mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh Umar dan Abu. Ketiganya berharap begitu mereka sampai di gua kembali mereka akan mengambil berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya. Tapi, setelah mereka sampai di sana ternyata mulut gua sudah tertutup dengan sebuah batu besar. Mereka berusaha untuk membukanya tapi sia-sia. Mereka pun pulang dalam keadaan menyesal karena tidak dapat memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.
       Bagitulah gambaran pengamalan manusia di dunia. Dan buah dari pengamalan itu kelak akan diperoleh di akhirat. Berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Di hari pembalasan semua manusia akan menyesal demi melihat pahala yang diberikan Alloh begitu banyak. Yang beramal banyak akan menyesal kenapa ia tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya.
       Gua menggambarkan dunia di mana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun tidak beramal sama sekali sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan gua yang tertutup menggambarkan kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.
       Rosululloh SAW telah bersabda :
       “Tidak ada dari seseorang yang telah mati kecuali dia akan menyesal. Sahabat nabi bertanya: mengapa dia menyesal wahai Rosululloh? Nabi Menjawab: Jika dia orang yang beramal baik, dia akan menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (ketika di dunia), dan jika dia orang yang beramal jelek, dia menyesal mengapa tidak mencabut (bertaubat) atas amal jeleknya (ketika di dunia).”

SUMBER : HR TIRMIDZI DAN HR BAIHAQI

Minggu, 26 Oktober 2014

Empat cara ampuh mengatasi malas beribadah dan gejolak maksiat


Assalamu’alaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh
Tidak dapat dipungkiri kita sebagai manusia tentu tidak akan pernah luput dari yang namannya rasa malas beribadah dan juga maksiat. Pasti dan tidak mungkin tidak rasa malas beribadah dan juga maksiat pasti sewaktu-waktu dapat menghampiri kita. Oleh sebab itu Habib Abdullah al-hadad menjelaskan dalam kitab beliau Risalah Muawanah mengenai cara yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk mengatasi malas beribadah dan gejolak maksiat. Dalam hal ini menurut beliau ada beberapa cara;

1.      Dengan mengingat bahwa Allah Swt maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui akan segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini selaras dengan firman Allah;
إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Qs. Al-Imran ayat 5)
Oleh sebab itu jika kita merasakan diri kita mulai malas beribadah ataupun berbuat maksiat, ingatlah bahwa Allah maha mengetahui dengan apa yang kita lakukan.

2.      Jika cara pertama tidak dapat dilakukan sebab sangat minimnya ma’rifat kita kepada Allah, lakukanlah cara kedua, yakni dengan mengingat bahwa disamping kanan dan kiri kita ada dua malaikat yang selalu mengintai apapun yang kita perbuat. Mereka pasti akan mencatat segala sesuatu yang kita lakukan. Allah berfirman;
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qs. Al-Qaf ayat 18)

3.      Jika cara kedua tidak mampu untuk mengatasi malas kita, maka ingatlah bahwa kematian itu dapat datang kapan saja. Siapa yang tahu kapan kita akan mati? Bisa saja minggu depan, besok, satu jam kedepan, atau bahkan detik ini juga. Allah berfirman;
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. Luqman ayat 34).

4.      Jika cara ketiga juga tidak mampu untuk mengatasi malas kita, ingatlah akan apa yang Allah janjikan berkaitan dengan pahala yang besar bagi orang yang berbuat baik dan adzab yang pedih bagi orang yang berbuat maksiat.

Oleh karena itu katakanlah kepada diri kita “Wahai diri (yang tidak memilki apapun)! Pikirkanlah bagaimana kehidupan kelak setelah meninggal? Kehidupan yang penuh dengan kesusahan, kesulitan dan lain sebagainya. Pikirkanlah bahwa setelah meninggal tempat yang kita tuju hanya ada 2. Bila tidak syurga pastilah neraka.

Wallahu ‘alam
Marilah kita berusa agar dapat mengamalkannya, semoga kita mendapat petunjuk dari-Nya.


Dikutip dari kitab Risalah Muawanah hal. 6
ومتى رأيت من نفسك تكاسلاً عن طاعته أو ميلاً إلى معصيته فذكرها بأن الله يسمعك ويراك ويعلم سرك ونجواك، فإن لم يفدها هذا الذكر لقصور معرفتها بجلال الله تعالى فاذكر لها مكان الملكين الكريمين اللذين يكتبان الحسنات والسيئات واتل عليها (إذ يتلقَّى المتَلقيانِ عن اليمين وعن الشمال قعيد ما يلفِظُ من قول إلا لديه رقيب عتيد) فإن لم تتأثر بهذا التذكير فذكرها قرب الموت وأنه أقرب غائب ينتظر، وخوِّفها بهجومه على غرة وأنه متى نزل بها وهي على حالة غير مرضية تنقلب بخسران لا آخر له، فإن لم ينفعها هذا التخويف فاذكر لها ما وعد الله به من أطاعه من الثواب العظيم وما توعَّد به من عصاه من العذاب الأليم، وقل لها يا نفس ما بعد الموت من مستعتَب وما بعد الدنيا من دار إلا الجنة أو النار فاختاري -لنفسك إن شئت- طاعة تكون عاقبتها الفوز والرضوان والخلود في فسيح الجنان، والنظر إلى وجه الله الكريم المنان، وإن شئت، معصية يكون آخرها الخزي والهوان والسخط والحرمان والحبس بين طبقات النيران، فعالج نفسك بهذه الأذكار عند تقاعدها عن الطاعة وركونها إلى المعصية فإنها من الأدوية النافعة لأمراض القلوب

Selasa, 14 Oktober 2014

“We Are Connected”



"We Are Connected
 


Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak akan pernah lepas dari interaksi antar sesamanya merupakan sebuah keniscayaan. Dalam sejarah umat manusia belum ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa melakukan interaksi dengan manusia yang lain. Jikapun ada pasti ia akan merasa sangat kesepian. Bahkan jika kita flashback pada asal muasal mengapa Hawa diciptakan adalah lantaran Nabi Adam manusia pertama merasakan kesepian.
Berkaitan dengan hal ini dapat dipahami bahwa antara manusia satu dengan manusia lain pasti melakukan interaksi. Dengan kata lain pada hakikatnya manusia satu dan manusia yang lain adalah saling terhubung menjadi satu  We are Connected”. Bukti bahwa kita semua terhubung adalah firman Allah;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Qs. Al-Hujurat Ayat 10)
Rasulullah Saw bersabda;
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." kemudian beliau menganyam jari jemarinya." (HR. Bukhari)
Islam sebagai agama yang paling sistematis dalam mengatur interaksi antar satu manusia dengan manusia yang lain mengajarkan agar sebelum melakukan interaksi, seyogyanya memikirkan tentang akibat dari interaksi yang akan ia lakukan. Rasulullah Saw bersabda;
إِذَا اَرَدْتَ أَنْ تَفْعَلَ أَمْرًا فَتَدَبَّرْ عاَقبِتَهَ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَامْضِ وَإِنْ كَانَ شَرًّا فَانْتَهِ

“Apabila engkau hendak mengerjakan suatu perkara, maka pikirlah dahulu akibatnya, apabila akibatnya baik, maka kerjakanlah, dan apabila akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.” (HR. Ibnu Mubarak) 
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw mengajarkan kepada umatnya agar memperhitungkan semaksimal mungkin akan akibat dari perbuatan yang akan dilakukan. Bahkan tidak hanya perbuatan, perkataan pun demikian. Sebagai seorang Muslim sudah sepatutnya ia menjaga lisannya agar tidak menyakiti hati saudara Muslimnya. Rasulullah Saw bersabda;
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ (رواه البخارى)
“Seorang Muslim sejati adalah orang yang  selamat muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya (perbuatannya). Dan orang Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”.(H. R. Bukhari).

“We Are Connected
Seorang Muslim sudah sepatutnya menanamkan dalam hatinya bahwa setiap tindakan yang ia perbuat berpotensi dapat berpengaruh terhadap kehidupan orang lain. Sebagai contoh kecil misalkan kita melihat paku kecil berkarat yang ada ditengah jalan dan kita memutuskan untuk tidak menyingkirkannya, maka inilah awal rentetan kejadian yang mungkin saja terjadi dan bisa jadi akan terjadi.
Pertama, karena kita memutuskan untuk tidak menyingkirkannya, maka akan ada seseorang yang terkena paku tersebut, terluka dan karena berkarat akan menjadi infeksi. Karena infeksi dia akan sakit dan tidak bisa bekerja, karena tidak bisa bekerja maka penghasilannya akan berkurang, karena penghasilan berkurang maka keluarganya akan terkena dampaknya, entah itu tidak sekolah, tidak makan atau bahkan tidak bisa membayar hutang… dan seterusnya dan seterusnya… Efek berantai akan semakin membuat banyak orang yang bahkan mungkin sama sekali tidak pernah kita temui akan merasakan dampak dari keputusan kita tidak menyingkirkan paku yang seharusnya bisa menghindari dari masalah tersebut.
Sebaliknya jika paku berkarat tersebut kita singkirkan, maka orang lain akan selamat karena perbutan kita.  Dan bisa jadi karena perbuatan kecil tersebut dapat menolong kita di hari pembalasan kelak. Bukankah ada sebuah hadis yang mengisahkan bahwa Allah mengampuni dosa-dosa (bukan dosa mensyirikan-Nya) seseorang yang membuang duri dari tengah jalan. Rasulullah berssabda;
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَذَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu menemuklan potongan duri di jalan lalu diambilnya. Kemudian dia bersyukur kepada Allah maka Allah mengampuninya”. (HR. Bukhari)
Contoh lain dari perbuatan yang dapat berpengaruh kepada kehidupan orang lain adalah ketika ada teman kita yang tidak masuk kuliah, kemudian kita tidak memberi tahu kepadanya bahwa pada saat ia tidak masuk kuliah ada beberapa tugas dari dosen yang harus diselesaikan minggu depan, inilah awal dari bencana yang mungkin terjadi. Kemungkinan terburuknya adalah kita akan dibenci dan dimusuhi oleh teman kita.

Kesimpulan
Biasakanlah berfikir sebelum melakukan tindakan. Sebab banyak perbuatan kecil menjadi besar karena tindakan kita yang tidak terduga.

كَثِيْرٌ مِنَ الأعْمالِ الصِّغارِ تَكُوْنُ كِباراً لِأنَّ أعْمالَنا الَّتِيْ قَدْ تكونُ مِنْ غَيْرِ مَظْنُوْنٍ