Pages

Senin, 13 Oktober 2014

Hukum Mematikan Hp Sebelum Shalat

A.    Pandangan Islam Terhadapa HP
Telepon seluler (ponsel) atau handphone (Hp) adalah perangkat telemonikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa keman-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel.[1] Hp sebagai media telekomunikasi yang mudah dibawa kemana-mana tentu keberadaannya di tengah-tengah kehidupan merupakan sesuatu yang sangat membantu manusia dalam melakukan aktifitasnya. Namun sisi lain keberadaan Hp di tengah-tengah kehidupan juga dapat menimbulkan hal yang negatif. Hp akan bermanfaat dan membantu jika digunakan oleh orang yang tepat. Tapi jika Hp digunakan oleh orang yang memiliki niat jahat tentu akan digunakan untuk melakukan kejahatan seperti penipuan, perselingkuhan, dan lain sebagainya.

Minggu, 12 Oktober 2014

Insya Allah, Nggak Janji Lho..



Insya Allah, Nggak Janji Lho..
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Dalam pergaulan sehari-hari kita sering menjumpai, bahkan juga melakukan, setiap kita berjanji dengan seseorang, kita akan mengucapkan kata “Insya Allah”. Begitu mudah kata-kata itu meluncur dari bibir, namun tidak semua orang paham betul apa dan bagaimana konsekuensi dari kata-kata tersebut. Parahnya lagi, sering kali kata-kata tersebut digunakan oleh sebagian orang sebagai alibi ketika ternyata orang yang berjanji tersebut tidak mampu menepati janjinya. “maaf ya” saya kan tidak janji, saya hanya bilang “Insya Allah”, begitu kilahnya. Dengan kata lain seakan-akan kata “Insya Allah” adalah alat yang digunakan untuk menolak namun dengan cara halus.
Islam memang mengajarkan pemeluknya untuk tidak berani menyatakan pasti terhadap apa yang akan ia lakukan esok hari. Islam menegaskan kepada manusia, Allah lah kepastian tejadinya peristiwa atau perbuatan. Manusia hanya perencana dan penyusun program, keputusan ada di tangan-Nya. Allah sendiri pernah menegur Rasulullah, saat beliau memastikan kesanggupannya esok hari untuk menceritakan kisah Ashhabul Kahfi kepada kaum Nashrani dan suku Najran sebagai bukti atas kerasulan beliau. Karena beliau yakin Allah akan memberikan wahyu kepadanya tentang kisah Ashhabul Kahfi tersebut sebelum esok hari. Allah menegur Rasulullah melalui Firman-Nya;
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لأقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini". (Qs. Al-Kahfi ayat 23-24)

Dalam ayat lain Allah juga memperingatkan bahwa manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dan dapat dilakukan esok hari. Manusia juga tidak akan pernah tahu di mana ia akan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua itu merupakan rahasia Allah. Allah berfirman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman ayat 34)

Lalu apakah dengan serta merta dua ayat di atas memerintahkan manusia untuk pasrah saja dan menyerahkan semua yang akan terjadi esok hari kepada Allah tanpa perlu berusaha?
Tentu tidak demikian, maksud dari kedua ayat di atas adalah hendaknya manusia tidak memastikan apa yang terjadi ataupun pekerjaan yang akan dilakukan esok hari. Manusia harus tetap mengatur dengan baik apa yang akan dikerjaannya esok hari. Ia harus cermat merumuskan apa yang akan dilakukan dan megkalkulasi apa yang diperoleh dari hasil usaha atau perbuatan yang dilakukan. Semua harus serba cermat dan tepat. Namun demikian yang perlu ditegaskan adalah manusi tidak boleh memastikan apa yang pasti akan ia dapatkan atau apa yang akan ia kerjakan esok hari. Karena yang demikian adalah termasuk sifat sombong dan jumawa. Perencanaan memang harus, namun memasrahkan hasil dari perencaan kepada Allah lebih harus. Semua itu dimaksudkan agar jika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan seorang tidak akan kecewa maupun stres.
Lebih dari itu Islam tidak hanya memerintahkan manusia untuk merencanakan dan merumuskan apa yang akan dilakukannya esok hari, bahkan juga memerintahkannya untuk mengevaluasi apa yang telah diperbuat untuk esok hari. Jadi, dalam Islam hidup harus diatur dengan baik. Allah berfirman;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al-Hasyr ayat 18)

Dalam kaitannya dengan janji, Allah memerintahkan setiap orang beriman untuk menyatakan “Insya Allah” dalam setiap janji yang diucapkannya. Namun itu bukan untuk berkilah saat ia tidak dapat menepati janjinya. Apalagi sampai digunakan sebagai alibi yang membuat mati kutu’ orang lain. “Saya kan bilang Insya Allah, enggak janji lho...!” itulah kata yang sering kali kita dengar untuk berkilah saat ada protes dari orang yang merasa dirugikan atau dicederai oleh janji yang tidak ditepati.
Ini jelas penerapan kata “Insya Allah” yang tidak benar. Kata “Insya Allah” itu harus diposisikan dalam rangka perjanjian yang sudah mendekati kenyataan. Bila seorang memang tidak dapat menepati janji, sedari awal sebaiknya mengatakannya dsehingga tidak membuat orang lain kecewa.
Mengingkari janji yang telah diucapkan dengan menyatakan “Saya kan bilang Insya Allah, jadi saya tidak janji...!” Jelas merupakan sikap yang tidak terpuji. Bahkan kalau hal semacam ini menjadi kebiasaan, maka pelakunya akan terjerumus dalam lembah kemunafikan. Bukankah salah satu tanda orang munafik adalah suka mengingkari apa yang ia janjikan. Rasulullah Saw bersabda;

أيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إذَا حَدَثَ كَذَبَ وَإذَا وَعَدَ أخْلَفَ وَإذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Ciri orang munafik itu  ada tiga, yaitu: jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkari, dan jika diberi amanah berkhianat.” (H.R. Muslim)

Kesimpulan:
Dalam hal penggunaan kata “Insya Allah” sebagai seorang muslim yang berkeyakinan bahwa Allah maha menguasai akan segala sesuatu, maka seyogyanya tidak mempermainkan kata tersebut. Jika memilki keyakinan kuat bahwa janjinya dapat ia laksanakan maka katakanlah “Insya Allah”. Namun jika memang tidak dapat menepati janji jangan gunakan kata “Insya Allah” sebagai alat untuk berkilah saat tidak dapat menepati janji.
Wallahu’alam bisshawab

Sabtu, 11 Oktober 2014

Romantis Dalam Kehidupan Remaja

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh
Kata “Romantis” merupakan salah satu topik pembicaraan yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan remaja. Kata ini merupakan kata yang sangat menarik untuk dibahas. Bahkan sungguhpun kata romantis ini milik semua kalangan, namun kesannya hanya kalangan remajalah yang memilikinya.

Senin, 29 September 2014

RINGKASAN MAWARIS UNTUK AHS SMT V



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tulisan ini berawal dari kesulitan saya dalam menghapal bagian-bagian yang didapat ahli waris ketika mengikuti perkuliahan Fikih Mewaris I pada saat saya duduk di semester V IAIN Palangka Raya. Untuk itulah saya buat ringkasan mewaris ini agar dapat memudahkan saya untuk menghapalnya. Semoga dapat bermanfaat untuk saya khususnya dan teman-teman pada umumnya.
RINGKASAN MEWARIS AHS SMT V
Perhatian;
Sebelum membaca tabel di bawah ada baiknya teman-teman membaca cara penggunaannya. Untuk cara menggunakannya, coba teman-teman perhatikan pada kolom pertama. Di sana terlulis Anak Pr kan? nah, cara membacanya begini. “Anak pr jika ada anak lk2 ia menjadi Ashabah bil Ghair (ABG), jika berdua atau lebih ia mendapat bagian 2/3, dan jika ia sendiri + tidak ada anak lk2, maka ia mendapat bagian 1/2,” dan seterusnya.

Anak (pr)

Anak (lk)

Berdua/lebih
sendiri
Ashabah Bil Ghair (ABG)
2/3
1/2


Cucu (Pr)

Anak (lk)
Cucu (lk)
2 anak (pr)/Lebih
1 anak (pr)
Berdua/lebih
sendiri
Mahjub
ABG
Mahjub
1/6
2/3
1/2


Sdr (pr) kandung[1]

Anak (lk), Cucu (lk), ayah
Sdr (lk)
Anak (pr), Cucu (pr)
Berdua/ lebih
Sendiri
Mahjub

ABG
AMG[2]
2/3
1/2



Sdr (pr)
seayah

Anak (lk,
Cucu (lk), ayah/,
sdr (lk) kdg
sdr (pr) kdg yg mjd Asb, 2 sdr (pr) kdg/ lebih
Sdr (lk) seayah
 Anak (pr),
Cucu (pr)
1 orang Saudara
(pr)
Kandung
Bedua/
Lebih
Sendiri

Mahjub

Mahjub
ABG
AMG
1/6
2/3
1/2



Sdr (pr) seibu/
Sdr (lk) seibu

Anak (lk), Cucu (lk), anak (pr), Cucu (pr), ayah, kakek
Berdua/lebih
Sendiri
Mahjub
1/3
1/6



Suami
Anak (lk)/Cucu (lk)/anak (pr)/Cucu (pr)
-
1/4
1/2
Isteri
1/8
1/4




Kakek

Ayah
Anak lk,
Cucu lk
Anak Pr,
Cucu Pr,
-
1/6
1/6 + Ashabah
Ashabah
Mahjub
1/6
1/6 + Ashabah
Ashabah


Ibu[3]

Anak (lk)/Cucu (lk)/anak (pr)/Cucu (pr)
-
1/6
1/3


Nenek[4]

Ibu/ ayah
-
Mahjub
1/6

Susunan Asabah Bi Nafsih (ABN)
1.     anak
2.     cucu
3.     ayah
4.     kakek
5.     sdr (lk)
kdg
6.     sdr (lk)
seayah
7.     anak
sdr (lk)
kandung
8.     anak
sdr (lk) seayah

9.  paman
kandung
10.             pamn
seayah
11.              anak
pam  an
kandung
12.              anak
paman
seayah
13.              Mu’tiq
(Og yg m’merdekkan budak)
14. Mu’tiqah
(Og yg mmerdekkan budak)

Bagi yang ingin file documennya bisa download lewat link di bawah
DOWNLOAD



[1]Untuk saudara pr kandung sebenarnya masih ada pembahasan Musyarakah, namun tidak dibahas pada semester ini.
[2]AMG (Ashabah Ma’al ghair)
[3]Pembahasan ibu ini sebenarnya tidak hanya sebatas yang telah disebutkan. Masih ada pembahasan lain, namun untuk kita (fikih mawaris I) cukup mengetahui yang telah disebutkan.
[4]Jika nenek itu ibu dari ayah, maka ia mahjub (terdinding) oleh  ibu dan ayah. Namun jika nekek itu ibu dari ibu maka ia mahjub oleh ibu saja.