Pages

Kamis, 05 Juni 2014

Bersatu kita terhormat



Dalam ilmu nahwu, “dhommah” adalah salah satu tanda dari tanda-tanda rofa”. Secara lafdziah kata dhommah berarti bersatu. Sedang kata rofaberarti tinggi. Maksudnya, bila kita dapat bersatu dengan sesama, dapat menjaga kesatuan dan persatuan, dapat mempererat tali ukhuwah, bukan tidak mungkin kita akan menjadi umat yang terhormat dan tinggi (rofa’) di antara bangsa dan umat lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا
Bersatulah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah belah (Ali Imran: 103). Sementara untuk mendapatkan derajat tinggi harus memenuhi syarat, di antaranya adalah iman. Firman Allah SWT:
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ
Janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kamu tinggi jika kamu beriman (Ali Imran: 139).
Ada beberapa keriteria sehingga orang bisa mendapatkan derajat rofa’ (tinggi). Sebagaimana dijelaskan dalam Al Jurumiyah, bahwa di antara kedudukan kalimat yang mendapat hukum rofa’ atau marfu’ (yang diberi penghargaan tinggi) adalah: fa’il, naib fa’il, mubtada’, khobar dan tawabi’ marfu(sesuatu yang mengikuti segala kalimat marfu’) seperti sifat (na’t), badal, taukid dan ‘atof. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Fa’il (aktivis). Bila kita ingin menjadi orang yang dihargai, tinggi dan tidak terhina, maka hendaklah kita berbuat, bekerja dan berusaha, tidak berpangku tangan atau hanya mengharap belas kasih orang lain. Hanya orang yang aktif dan pro aktiflah (fa’il) yang membuahkan karya-karya dan amal dan menjadi terhormat di lingkungannya. Firman Allah SWT: Dan katakanlah (hai Muhammad): Bekerjalah kalian! sesungguhnya pekerjaan kalian akan dilihat oleh Allah, RasulNya dan kaum mu’minin(At Taubah : 105). Sabda Nabi Muhammad SAW: “ tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah(peminta)”.
2. Naib fa’il (mewakili tugas-tugas aktivis) adalah tipe kedua orang yang mendapat derajat tinggi. Meskipun ia berkedudukan sebagai wakil, tapi ia menjalankan pekerjaan yang dilakukan fa’il walau harus menjadi penderita dalam kedudukannya sebagai kalimat. Sebagai contoh dalam hal ini adalah sahabat Ali ra. Beliau pernah menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya dengan resiko yang tinggi berupa pembunuhan yang akan dilakukan para pemuda musyrikin Makkah saat Rasulullah berencana melaksanakan hijrah ke Madinah. Contoh lain adalah para huffadz yang diutus Rasulullah untuk mengajarkan agama atas permintaan salah satu suku di jazirah Arab, namun nasib mereka naas dikhianati dan dibunuh para pengundang. Mendengar hal itu, Rasulullah pun membacakan do’a qunut nazilah sebagi rasa ta’ziyah. Dengan do’a dari Rasul tersebut, tentu saja mereka yang wafat mendapat kedudukan mulia di sisi Allah, juga oleh sejarah.
3. Mubtada (pioneer), orang yang pertama melahirkan ide-ide positif kemudian diaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat sehingga berguna bagi kehidupan manusia adalah orang yang pantas mendapat derajat rofa’ (tinggi). Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa memulai sunnah hasanah (ide positif dan konstruktif) maka baginya pahala dan pahala orang yang melakukan ide (sunnah) tersebut. Ada pepatah Arab mengatakan demikian:
الفضل للمبتدئ وان أحسن المقتدى
“Penghargaan itu hanyalah milik orang pertama memulai, walaupun orang yang datang kemudian dapat melakukannya lebih baik
4. Khobar (informasi). Mereka yang memiliki khobar (informasi) itulah orang yang menguasai. Demikian salah satu ungkapan dalam ilmu komunikasi. Di dunia ini sebenarnya tidak ada orang yang lebih banyak ilmunya dari seorang lain. Yang ada adalah karena orang itu lebih banyak mendapatkan dan menyerap informasi dari lainnya. Membaca buku, apapun buku itu, sebenarnya kita sedang menyerap sebuah informasi. Dan sebanyak itu informasi yang kita dapatkan sebesar itu pula kadar maqam kita. Informasi dapat kita peroleh melalui berbagai cara, termasuk di dalamnya pengalaman.
5. Tawabi’ Marfu (Mereka yang mengikuti jejak langkah orang yang mendapat derajar tinggi). Jelas, siapa saja yang mengikuti langkah dan perjuangan mereka yang mendapat derajat tinggi, maka mereka akan dihargai. Allah berfirman:Sungguh dalam diri Rasulullah ada suri tauladan yang patut ditiru bagimu. Ayat ini menegaskan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah yang telah mendapatkan maqoman mahmuda (kedudukan terpuji) di sisi Allah agar kita mendapat hal yang sama di sisiNya. Di samping itu, salah satu orang yang akan mendapat derajat tinggi adalah para penuntut ilmu. Firman Allah SWT : Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu dengan beberapa derajat (Al Mujadalah: 11). Ilmu adalah warisan para nabi, dan siapa yang mengikuti (tabi’) langkah nabi ia akan mendapat kehormatan (rofa’)

Dikutip dari tulisan H. Muhammad Jamhuri Lc. MA

Senin, 02 Juni 2014

BERPERANTARA YANG MENYEKUTUKAN ALLAH


BERPERANTARA YANG MENYEKUTUKAN ALLAH
Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam Kitabnya Mafahimu Yajibu an Tushahhaha, menerangkan bahwa kebanyakan orang acapkali keliru dalam memahami “Perantaraaan” (al-Wasithah) dan keperantaraan, lalu secara serampangan menuduh bahwa berperantara itu adalah suatu bentuk kemusyrikan; dan barang siapa yang mengambil perantara apapun bentuknya, maka dia telah menyekutukan Allah Swt, dan kedudukannya sama dengan orang-orang musyrik yang mengatakan “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Pernyataan orang-orang Musyrik ini dapat diketahui dalam firman-Nya 
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az-Zumar ayat 3)
Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki mengatakan bahwa pendapat demikian (pendapat yang mengatakan bahwa kedudukan orang yang mengambil perantaraan sama dengan orang-orang Musyrik)  adalah pendapat yang tidak dapat diterima. Orang yang demikian adalah orang yang berdalil dengan ayat namun bukan pada tempatnya. Sebab, maksud ayat yang mulia itu tertuju pada pengingkaran orang-orang Musyrik atas penyembahan mereka kepada berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan selain Allah Swt. Mereka (orang-orang Musyrik) menyatakan bahwa penyembahan mereka kepada berhala-berhala tersebut adalah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Jadi, kekafiran dan kemusyrikan mereka itu adalah dari sisi penyembahan mereka (kepada berhala-berhala) dan dari sisi keyakinan mereka bahwa berhala-berhala tersebut adalah tuhan-tuhan selain Allah Swt. 
Lebih lanjut beliau menjelaskan, kedudukan antara orang yang mengambil perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa mereka menyembah berhala adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah sangat jauh berbeda. Beliau memberikan analogi dengan tindakan kaum Muslim yang mencium Hajar Aswad. Telah diketahui semua orang bahwa hajar Aswad adalah sebuah batu. Namun demikian tindakan mencium Hajar Aswad bukanlah suatu bentuk penyembahan kepada batu tersebut, tetapi ia adalah bentuk penyembahan kepada Allah Swt dan mengikuti sunah Rasulullah Saw. Seandainya ada seorang Muslim yang berniat menyembah Hajar Aswad, maka sudah tentu dia telah menjadi seorang Musyrik seperti para penyembah berhala lainnya.
Dengan demikian, mengambil perantara merupakan suatu keharusan (kebolehan), dan ia bukan suatu kemusyrikan. Dengan kata lain, adalah tidak benar sangkaan bahwa setiap orang yang mengambil perantara itu tergolong sebagai orang Musyrik. Sebab, jika tidak demikian, niscaya seluruhh umat Muslim adalah orang-orang yang menyekutukan Allah Swt karena semua uruan dan tindakan mereka terbangun berasarkan perantara. Nabi Muhammad Saw misalnya, beliau menerima Alquran melalui perantaraan Jibril As, maka jibril As adalah perantara bagi Nabi Muhammad saw, dan Nabi Saw pun sebagai perantara terbesar bagai para sahabat beliau. 
Para sahabat nabi Saw bisa meminta pertolongan kepada Nabi Saw dalam menghadapi segala perkara yang genting dan menjadikan beliau sebagai tempat pengaduan berbagai permasalahn pribadi mereka. Mereka juga bis bertawasul dengan Nabi Saw kepada Allah Swt dan memohon doa kepada beliau.
Atas semua tindakan para sahabat itu, Rasulullah tidak pernah mengatakan “Kalian telah menyekutukan Allah Swtdan telah kafir kepada-Nya, karena sesungguhnya kalian tidak boleh mengadu kepadaku dan tidak pula boleh meminta doa kepadaku, akan tetapi kalian harus pergi dan memohon sendiri kepada Allah karena sesungguhnya Allah itu lebih dekat kepada kalian daripadaku” Sungguh Rasulullah Saw tidak pernah mengatakan demikian.
Sebaliknya, Rasulullah Saw bediri dan berdo’a untuk mereka, padahal mereka mengetahui sebenar-benarnya bahwa pemberi yang sebenarnya adalah Allah Swt, dan bahwa yang mencegah rizki, Yang Meluaskan Riski, dan Yang Memberi rizki hanyalah Allah Azza Wa Jalla, dan bahwa Rasulullah Saw memberi itu hanyalah karena Izin Allah dan karunia-Nya. 
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa kita dibolehkan menyifati manusia dengan ungkapan “Dia telah menghilangkan kesusahan dan memenuhi kebutuhan.” Dalam arti orang tersebut sebagai perantara atas semua hal itu. Jika terhadap manusia biasa penyifatan hal tersebut dibolehkan apalagi terhadap sayyidul-karim, junjungan kita yang mulia, Muhammad Saw, Nabi  yang agung, Manusia yang paling Mulia di dunia dan Akhirat, pemimpin manusia dan jin, dan seutama-utama makhluk Allah secara mutlak.

Dikutip dari Terjemah Kitab Mafahimu Yajibu an Tushahhaha karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, alih Bahasa Tholib Anis, JakSel ; Al-Huda, cet 1, 2011, h. 76-84.