Pages

Senin, 03 November 2014

Tiga orang pemuda dan perumpamaan amal



Di sebuah desa terpencil, di tepi hutan di lembah yang hijau hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung di desa tersebut dan ramai dikunjungi baik dari penduduk setempat maupun dari desa lainnya. Diantara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan dagangannya yaitu kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Umar, Abu, Abbas.
KEGIATAN sehari-hari mereka adalah mencari kayu bakar di hutan lalu dijualnya ke pasar. Pekerjaan ini mereka lakukan tanpa pernah melirik pada pekerjaan lain, barangkali kodrat Ilahi sudah menentukan demikian. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lainnya, walaupun begitu ketiganya mempunyai perangai berbeda.
       Umar berperangai sabar, tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras. Setelah Sholat  Shubuh  di saat matahari belum terbit, ia sudah pergi menjemput kedua temannya yang masih terlelap untuk mengajak pergi mencari kayu bakar. Abu, kadang mengerjakan sholat Shubuh kadang tidak. Abbas, adalah tipe pemalas yang susah bangun pagi. Kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena ia selalu beralasan,”Aku masih ngantuk nih. Duluan saja, nanti aku akan menyusul.”
       Umar memperlihatkan rasa kasih sayang kepada semua orang. Ia sangat menyayangi saudara dan kedua orangtuanya. Ia juga menyayangi orang-orang di sekililingnya. Ia akan segera membantu mereka yang perlu bantuannya.  Temannya, Abu, sikapnya biasa-biasa saja. Ia tidak terlalu antusias dengan  lingkungannya. Jika ia di ajak Umar untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi membantu. Tapi  Abbas, adalah pemuda yang cuek. Ia merasa tidak harus banyak membantu orang lain, karena menurutnya ia adalah orang miskin yang perlu bantuan orang lain juga. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.
       Begitulah, ketiga sahabat itu memang beda, walaupun begitu tetap saja mereka selalu bersama. Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan di sebelah barat dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang biasa mereka dapatkan.
       Seperti biasa setelah Sholat  Shubuh, hari masih gelap, Umar menjemput kedua temannya. Kemudian ketiganya berangkat menuju hutan sebelah barat. Perjalanan kali ini cukup jauh, harus melewati sungai, lembah, dan bukit-bukit terjal di pegunungan. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu bakarnya. Kemudian mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya.
       Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai dengan petir yang bersahutan. Ketiganya sangat bingung dan ketakutan, mereka lalu berlari mencari tempat berteduh.
       Umar melihat sebuah gua, kemudian ia berteriak kepada kedua temannya untuk berteduh di sana. Mereka pun masuk ke dalam gua yang gelap gulita itu. Di dalam gua, mereka tidak melihat apa-apa di sekelilingnya. Seakan-akan mata mereka buta. Ketiganya pun berjalan perlahan. Tiba-tiba mereka menginjak benda-benda halus licin seperti kerikil. Bersamaan dengan itu mereka di kejutkan dengan sebuah suara yang menggema ke seluruh ruangan gua. “Siapa yang mengambil akan menyesal. Siapa yang tidak akan mengambil akan menyesal.”
       Ketiganya mendengar suara itu berulang-ulang hingga lama-lama menghilang. Kemudian Umar, Abu dan Abbas memutar otaknya untuk mencari keuntungan dari suara gaib itu. “Apakah yang akan di ambil?” Ada apa di dalam gua ini?” begitu pikir mereka. Tetapi mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.
       Umar berkata dalam hatinya,”Kalau saya ambil, saya akan menyesal, kalau tidak saya ambil, saya juga akan menyesal. Ah, lebih baik ambil saja yang banyak.” Ia pun langsung memenuhi semua kantong baju dan celana dengan kerikil-kerikil itu.
       Abu pun berpikiran sama, tapi ia hanya mengambil kerikil-kerikil itu segenggam. Sebaliknya, Abbas malah tidak mau mengambil barang sedikitpun. “Kalau sama-sama menyesal lebih baik tidak aku ambil” pikirnya.
       Ketiganya pun membisu. Mereka masih ketakutan. Kemudian Umar mengajak kedua temannya untuk keluar dari gua. Mereka pun berlari keluar. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari gua. Dengan napas terengah-engah akhirnya mereka berhenti. Tidak terasa ternyata hujan juga sudah reda. Ketiganya lalu ingin membuktikan apa sebetulnya yang telah mereka ambil dari gua. Betapa terperanjatnya mereka bertiga ketika mengetahui bahwa kerikil-kerikil itu ternyata adalah berlian!!.
       Umar sudah mengantongi banyak berlian merasa menyesal,”Waduh!  Kalau saja aku tahu ini berlian, aku akan mengambilnya lebih banyak lagi. Kalau perlu akan kubuka bajuku untuk mengantongi berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya.”  Abu juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Sedangkan Abbas, tubuhnya langsung lemas ketika mengetahui kedua temannya mendapat berlian. Ia sendiri tidak mendapat apa-apa. “Ohh, kenapa tadi aku tidak mengambil barang sedikit saja” ia pun jatuh pingsan dengan sejuta penyesalan.
       Setelah Abbas siuman, ketiganya bersepakat untuk mendatangi gua itu kembali. Dengan semangat, Abbas langsung mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh Umar dan Abu. Ketiganya berharap begitu mereka sampai di gua kembali mereka akan mengambil berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya. Tapi, setelah mereka sampai di sana ternyata mulut gua sudah tertutup dengan sebuah batu besar. Mereka berusaha untuk membukanya tapi sia-sia. Mereka pun pulang dalam keadaan menyesal karena tidak dapat memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.
       Bagitulah gambaran pengamalan manusia di dunia. Dan buah dari pengamalan itu kelak akan diperoleh di akhirat. Berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Di hari pembalasan semua manusia akan menyesal demi melihat pahala yang diberikan Alloh begitu banyak. Yang beramal banyak akan menyesal kenapa ia tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya.
       Gua menggambarkan dunia di mana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun tidak beramal sama sekali sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan gua yang tertutup menggambarkan kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.
       Rosululloh SAW telah bersabda :
       “Tidak ada dari seseorang yang telah mati kecuali dia akan menyesal. Sahabat nabi bertanya: mengapa dia menyesal wahai Rosululloh? Nabi Menjawab: Jika dia orang yang beramal baik, dia akan menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (ketika di dunia), dan jika dia orang yang beramal jelek, dia menyesal mengapa tidak mencabut (bertaubat) atas amal jeleknya (ketika di dunia).”

SUMBER : HR TIRMIDZI DAN HR BAIHAQI

Jumat, 31 Oktober 2014

Hukum Berniat ketika Istinja

Hukum Berniat ketika Istinja
Pertanyaan;
Apakah ketika istinja seseorang wajib berniat sebagaimana berwudhu berdasarkan hadis;
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“hanyasannya Semua perbuatan tergantung niatnya”
Jawaban;
Tidak wajib seseorang berniat ketika istinja. Namun disunahkan berniat ketika itu untuk mendapatkan pahala dari Allah. Perhatikan ta’bir berikut;
النية في التروك كترك الرياء وغيره من المنهي عنه. إن المقرر شرعاً: أن ترك المنهي عنه لا يحتاج إلى نية للخروج عن عهدة النهي، وإنما لحصول الثواب بأن كان كفّاً: وهو أن تدعوه النفس إليه، قادراً على فعله، فيكف نفسه عنه خوفاً من ربه، فهو مثاب، وإلا فلا ثواب على تركه، فلا يثاب على ترك الزنا وهو يصلي، ولا يثاب العنِّين (العاجز عن الجماع) على ترك الزنا، ولا الأعمى على ترك النظر المحرم.
وهناك أعمال في حكم التروك، لترددها بين أصلين: الأفعال من حيث إنها فعل، والتروك من حيث إنها قريبة منها، رجح الأكثرون عدم النية فيها، لمشابهة التروك، وذلك مثل إزالة النجاسة، ورد المغصوب والعواري، وإيصال الهدية وغير ذلك، فلا تتوقف صحتها على النية المصححة، لكن يتوقف الثواب فيها على نية التقرب.
Niat dalam perbuatan yang dituntut untuk ditinggalkan seperti meninggalkan riya atau perkara-perkara yang dilarang  (agama) Sebagaimana yang ditetapkan syara’. Meninggalkan perkara-perkara yang dilarang oleh agama tidak memerlukan niat. Namun apabila dimaksudkan untuk mendapatkan pahala maka perlu niat jika dalam pelaksanaannya ada proses menahan diri. Yaitu apabila nafsu mengajak melakukan perbuatan dosa, dan orang tersebut mampu melaksanakannya, namun ia menahan diri karena takut kepada Allah. Apabila ini yang terjadi, maka orang tersebut mendapat pahala. Apabila tidak ada proses semacam ini, maka orang yang meninggalkannya tidak mendapat pahala. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan perzinahan tidak mendapat pahala ketika ia sedang melakukan shalat. Orang yang tidak mampu berzina dan meninggalkan perzinahan juga tidak mendapat pahala. Orang yang buta dan dia tidak melihat yang diharamkan  juga tidak mendapat pahala.
Ada juga beberapa perbuatan yang berada di antara dua kutub; amal pelaksanaan (al-fi’il) dan meninggalkan (at-tarku). Namun hal ini ditetapkan sebagai perbuatan yang masuk kategori at-tarku, sehingga kebanyakan ulama menetapkan bahwa perbuatan tersebut tidak memerlukan niat. Dengan pertimbangan, ia sama dengan perbuatan at-tarku yang murni. Umpamanya adalah menghilangkan najis, mengembalikan barang yang di-ghasab, atau barang pinjaman dan menyampaikan hadiah. Sahnya perbuatan ini tidak memerlukan niat, namun penetapan pahala bagi perbuatan-perbuatan tersebut memerlukan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Kesimpulan
Istinja merupakan perbuatan yang termasuk dalam kategori menghilangkan najis. Oleh sebab itu, karena najis adalah sesuatu yang memang dituntut untuk dihilangkan maka tidak perlu berniat untuk mencapai sahnya instinja tersebut. Namun demikian jika menginginkan pahala maka ia harus berniat di dalam hati. Kaidah fikih menyebutkan;
لا ثواب إلا بنية
            “Tidak ada pahala kecuali dengan niat”
Wallahu’alam

Minggu, 26 Oktober 2014

Empat cara ampuh mengatasi malas beribadah dan gejolak maksiat


Assalamu’alaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh
Tidak dapat dipungkiri kita sebagai manusia tentu tidak akan pernah luput dari yang namannya rasa malas beribadah dan juga maksiat. Pasti dan tidak mungkin tidak rasa malas beribadah dan juga maksiat pasti sewaktu-waktu dapat menghampiri kita. Oleh sebab itu Habib Abdullah al-hadad menjelaskan dalam kitab beliau Risalah Muawanah mengenai cara yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk mengatasi malas beribadah dan gejolak maksiat. Dalam hal ini menurut beliau ada beberapa cara;

1.      Dengan mengingat bahwa Allah Swt maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui akan segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Ini selaras dengan firman Allah;
إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ
“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Qs. Al-Imran ayat 5)
Oleh sebab itu jika kita merasakan diri kita mulai malas beribadah ataupun berbuat maksiat, ingatlah bahwa Allah maha mengetahui dengan apa yang kita lakukan.

2.      Jika cara pertama tidak dapat dilakukan sebab sangat minimnya ma’rifat kita kepada Allah, lakukanlah cara kedua, yakni dengan mengingat bahwa disamping kanan dan kiri kita ada dua malaikat yang selalu mengintai apapun yang kita perbuat. Mereka pasti akan mencatat segala sesuatu yang kita lakukan. Allah berfirman;
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qs. Al-Qaf ayat 18)

3.      Jika cara kedua tidak mampu untuk mengatasi malas kita, maka ingatlah bahwa kematian itu dapat datang kapan saja. Siapa yang tahu kapan kita akan mati? Bisa saja minggu depan, besok, satu jam kedepan, atau bahkan detik ini juga. Allah berfirman;
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. Luqman ayat 34).

4.      Jika cara ketiga juga tidak mampu untuk mengatasi malas kita, ingatlah akan apa yang Allah janjikan berkaitan dengan pahala yang besar bagi orang yang berbuat baik dan adzab yang pedih bagi orang yang berbuat maksiat.

Oleh karena itu katakanlah kepada diri kita “Wahai diri (yang tidak memilki apapun)! Pikirkanlah bagaimana kehidupan kelak setelah meninggal? Kehidupan yang penuh dengan kesusahan, kesulitan dan lain sebagainya. Pikirkanlah bahwa setelah meninggal tempat yang kita tuju hanya ada 2. Bila tidak syurga pastilah neraka.

Wallahu ‘alam
Marilah kita berusa agar dapat mengamalkannya, semoga kita mendapat petunjuk dari-Nya.


Dikutip dari kitab Risalah Muawanah hal. 6
ومتى رأيت من نفسك تكاسلاً عن طاعته أو ميلاً إلى معصيته فذكرها بأن الله يسمعك ويراك ويعلم سرك ونجواك، فإن لم يفدها هذا الذكر لقصور معرفتها بجلال الله تعالى فاذكر لها مكان الملكين الكريمين اللذين يكتبان الحسنات والسيئات واتل عليها (إذ يتلقَّى المتَلقيانِ عن اليمين وعن الشمال قعيد ما يلفِظُ من قول إلا لديه رقيب عتيد) فإن لم تتأثر بهذا التذكير فذكرها قرب الموت وأنه أقرب غائب ينتظر، وخوِّفها بهجومه على غرة وأنه متى نزل بها وهي على حالة غير مرضية تنقلب بخسران لا آخر له، فإن لم ينفعها هذا التخويف فاذكر لها ما وعد الله به من أطاعه من الثواب العظيم وما توعَّد به من عصاه من العذاب الأليم، وقل لها يا نفس ما بعد الموت من مستعتَب وما بعد الدنيا من دار إلا الجنة أو النار فاختاري -لنفسك إن شئت- طاعة تكون عاقبتها الفوز والرضوان والخلود في فسيح الجنان، والنظر إلى وجه الله الكريم المنان، وإن شئت، معصية يكون آخرها الخزي والهوان والسخط والحرمان والحبس بين طبقات النيران، فعالج نفسك بهذه الأذكار عند تقاعدها عن الطاعة وركونها إلى المعصية فإنها من الأدوية النافعة لأمراض القلوب